Child grooming adalah proses manipulasi yang dilakukan oleh orang dewasa (atau pihak yang lebih berkuasa) untuk mendekati, membangun kepercayaan, dan mengeksploitasi anak, biasanya untuk tujuan seksual, emosional, atau eksploitasi lainnya. Dan yang paling berbahaya adalah proses ini bertahap dan terlihat “normal” di awal, sehingga sering tidak disadari.
Pelaku grooming bertujuan untuk:
- Mendapatkan kepercayaan anak
- Mengisolasi anak dari orang dewasa yang melindungi
- Membuat anak merasa “spesial” atau bergantung
- Normalisasi perilaku yang tidak pantas
- Membungkam anak agar tidak bercerita
Tahapan child grooming yang paling umum terjadi:
- Targeting (Memilih Korban)
- Pelaku sering menargetkan anak yang:
- Kurang perhatian
- Kesepian
- Sedang mengalami masalah keluarga
- Aktif di media sosial / game online
- Gaining Trust (Membangun Kepercayaan)
- Pelaku biasanya melakukan hal-hal berikut:
- Bersikap sangat baik
- Memberi perhatian berlebih
- Memberi hadiah, pujian, atau bantuan
- Menjadi “tempat curhat”
- Filling a Need (Mengisi Kekosongan Emosional)
- Pelaku menggantikan peran seorang teman, kakak, figur orang dewasa yang suportif, sehingga timbulah ketergantungan secara emosional.
- Isolation (Mengisolasi)
- Pelaku mulai:
- Menjauhkan anak dari keluarga/teman
- Membuat anak merasa orang lain tidak mengerti
- Menciptakan rahasia
- Sexualization / Boundary Testing
- Pelaku mulai menguji batas:
- Komentar tentang tubuh
- Candaan seksual
- Permintaan foto
- Konten tidak pantas
- Control & Silence
- Pelaku dapat membuat anak merasa bersalah, mengancam, membuat anak takut kehilangan perhatian, sehingga anak akhirnya diam dan tidak berani cerita.