courses

Build valuable skills and deepen your understanding with a range of topics tailored to your learning needs

coachings

Engage one-on-one with our experts. Tailored guidance to help you achieve personal and professional growth.

books

Explore a curated selection of insightful books. Enhance your knowledge and stay informed on the latest industry trends.

Bootcamps

Intensive, hands-on training designed to fast-track your skills. Get ready to tackle real-world challenges with confidence.

Webinar Academy 302nd

Memahami Child Grooming

Created by  Mounev Academy

In Collaboration with Masih Ada Hari Esok

Last updated Jan, 17 2026

Rp50.000

Go to Cart

about course

Child grooming adalah proses manipulasi yang dilakukan oleh orang dewasa (atau pihak yang lebih berkuasa) untuk mendekati, membangun kepercayaan, dan mengeksploitasi anak, biasanya untuk tujuan seksual, emosional, atau eksploitasi lainnya. Dan yang paling berbahaya adalah proses ini bertahap dan terlihat “normal” di awal, sehingga sering tidak disadari.

Pelaku grooming bertujuan untuk:

  • Mendapatkan kepercayaan anak
  • Mengisolasi anak dari orang dewasa yang melindungi
  • Membuat anak merasa “spesial” atau bergantung
  • Normalisasi perilaku yang tidak pantas
  • Membungkam anak agar tidak bercerita

Tahapan child grooming yang paling umum terjadi:

  1. Targeting (Memilih Korban)
  2. Pelaku sering menargetkan anak yang:
  • Kurang perhatian
  • Kesepian
  • Sedang mengalami masalah keluarga
  • Aktif di media sosial / game online
  1. Gaining Trust (Membangun Kepercayaan)
  2. Pelaku biasanya melakukan hal-hal berikut:
  • Bersikap sangat baik
  • Memberi perhatian berlebih
  • Memberi hadiah, pujian, atau bantuan
  • Menjadi “tempat curhat”
  1. Filling a Need (Mengisi Kekosongan Emosional)
  2. Pelaku menggantikan peran seorang teman, kakak, figur orang dewasa yang suportif, sehingga timbulah ketergantungan secara emosional.
  3. Isolation (Mengisolasi)
  4. Pelaku mulai:
  • Menjauhkan anak dari keluarga/teman
  • Membuat anak merasa orang lain tidak mengerti
  • Menciptakan rahasia
  1. Sexualization / Boundary Testing
  2. Pelaku mulai menguji batas:
  • Komentar tentang tubuh
  • Candaan seksual
  • Permintaan foto
  • Konten tidak pantas
  1. Control & Silence
  2. Pelaku dapat membuat anak merasa bersalah, mengancam, membuat anak takut kehilangan perhatian, sehingga anak akhirnya diam dan tidak berani cerita.

course contents

course features

Duration

...

Lectures

...

Downloadable resources

...

Quizzes

...

Full life time access

Certificate of completion

you may like

Go to Cart