Berikut teknik parenting yang relevan dan aplikatif untuk mencegah serta menghadapi masalah mental pada remaja:
1. Bangun Komunikasi Aman & Terbuka
Dengarkan tanpa menghakimi (less advice, more listening)
Validasi perasaan anak (“Wajar kalau kamu merasa begitu”)
Jadwalkan quality time rutin (bukan hanya saat ada masalah)
Tujuan: Remaja merasa aman untuk bercerita sebelum masalah membesar.
2. Ajarkan Literasi Emosi Sejak Dini
- Bantu anak mengenali dan menamai emosi (marah, cemas, kecewa)
- Ajarkan cara mengekspresikan emosi dengan sehat
- Orang tua menjadi role model dalam mengelola emosi
Tujuan: Mencegah emosi terpendam yang bisa berujung depresi atau ledakan emosi.
3. Kurangi Tekanan, Tingkatkan Dukungan
- Bedakan antara motivasi dan tekanan berlebihan
- Fokus pada proses, bukan hanya hasil akademik
- Hargai usaha, bukan membandingkan dengan orang lain
Tujuan: Menurunkan risiko stres kronis dan burnout pada remaja.
4. Tetapkan Batasan yang Sehat (Healthy Boundaries)
- Aturan jelas tapi fleksibel (jam tidur, gadget, pergaulan)
- Libatkan anak dalam membuat kesepakatan
- Konsisten tanpa kekerasan verbal maupun emosional
Tujuan: Remaja merasa aman, bukan dikontrol.
5. Waspadai Tanda Awal Masalah Mental
Orang tua perlu peka terhadap perubahan seperti:
- Menarik diri secara sosial
- Perubahan pola tidur & makan
- Mudah marah atau sedih berkepanjangan
- Prestasi menurun drastis
- Menyakiti diri atau ucapan putus asa
Tujuan: Deteksi dini = peluang pemulihan lebih besar.
6. Normalisasi Bantuan Profesional
- Hilangkan stigma ke psikolog/psikiater
- Jelaskan bahwa mencari bantuan tidak sama dengan lemah
- Dampingi anak saat proses konseling
Tujuan: Remaja tidak merasa sendirian menghadapi masalahnya.
7. Ciptakan Lingkungan Rumah yang Sehat Mental
- Minim konflik terbuka di depan anak
- Jaga komunikasi antar orang tua
- Rumah sebagai tempat aman, bukan sumber ketakutan