"Broken home" adalah istilah yang sering digunakan untuk menggambarkan keluarga yang mengalami disfungsi, konflik, atau perpecahan yang signifikan, seperti perceraian, perpisahan, atau masalah keluarga lainnya yang berdampak pada anggota keluarga, terutama anak-anak. Anak-anak yang tumbuh dalam lingkungan "broken home" mungkin menghadapi berbagai tantangan emosional dan psikologis. Berikut beberapa dampak dari broken home, yaitu:
Pertama, kesehatan mental. Anak-anak dari keluarga broken home lebih rentan terhadap masalah kesehatan mental seperti depresi, kecemasan, dan gangguan stres pascatrauma (PTSD).
Kedua, kesejahteraan sosial. Mereka mungkin merasa terisolasi atau mengalami kesulitan dalam bersosialisasi dan berinteraksi dengan orang lain.
Ketiga, kepercayaan dan keamanan. Anak-anak mungkin mengalami masalah kepercayaan dan merasa tidak aman dalam hubungan mereka.
Keempat, perilaku berisiko. Mereka mungkin lebih cenderung terlibat dalam perilaku berisiko seperti penggunaan narkoba, alkohol, atau aktivitas kriminal.
Selain itu, ciri-ciri dari anak broken home, yaitu: pertama, anak-anak mungkin menunjukkan perilaku bermasalah di sekolah atau rumah, seperti agresivitas, pemberontakan, atau kenakalan. Kedua, prestasi akademis mereka mungkin menurun akibat kurangnya dukungan emosional dan stabilitas di rumah. Ketiga, mereka mungkin mengalami kecemasan, depresi, rasa tidak aman, atau perasaan rendah diri. Keempat, anak-anak mungkin mengalami kesulitan membangun dan mempertahankan hubungan yang sehat dengan teman sebaya atau pasangan di masa depan. Kelima, beberapa anak mungkin merasa harus mengambil peran orang dewasa di rumah, merawat saudara-saudara mereka atau membantu mengurus rumah tangga.