Di era digital dan hookup culture, banyak hubungan yang tidak lagi berbentuk “pacaran jelas” — tetapi berubah menjadi bentuk-bentuk ambigu dan tidak stabil. Fenomena ini sangat terkait dengan biologi otak, psikologi relasi, dan attachment style seseorang.
- Situationship: hubungan ambigu, tidak didefinisikan, tidak ada komitmen, tapi ada kedekatan emosional/romantis. Berikut ciri-cirinya:
- Intens tapi tidak jelas status
- Banyak “mixed signals”
- Hubungan tidak berkembang
- Salah satu berharap lebih, yang lain tidak
- FWB (Friends With Benefit): berteman tapi ada unsur seksual tanpa komitmen romantis. Berikut ciri-cirinya:
- Umumnya sepakat “tanpa perasaan” di awal
- Sering berakhir tidak simetris (satu jatuh cinta, satu menjaga jarak)
- Bisa memicu kedekatan emosional karena seks meningkatkan bonding hormon
- Ghosting: hilang tiba-tiba tanpa penjelasan. Berikut ciri-cirinya:
- Komunikasi terputus
- Tidak ada penutupan (closure)
- Meninggalkan pihak yang ditinggal dalam ketidakpastian
- Breadcrumbing: memberi perhatian kecil–kecil pas butuh, hanya cukup untuk menjaga seseorang tetap tertarik tetapi tidak pernah benar-benar berkomitmen. Berikut ciri-cirinya:
- Like IG story sesekali
- Chat seminggu sekali
- Memberi harapan ambigu
- Muncul-hilang tanpa arah
Situationship/FWB/ghosting/breadcrumbing dapat berdampak pada self-esteem (harga diri):
- Membuat seseorang mempertanyakan nilai dirinya
- Merasa tidak cukup baik
- Merasa ditolak
- Merasa harus “berusaha lebih” untuk mendapatkan perhatian
- Fokus pada pleasing behavior
- Merasa loveable hanya ketika diberi perhatian
Kemudian, self-esteem menurun karena:
- Tidak ada kepastian → merasa dirinya tidak layak diperjelas
- Sering dibandingkan (real or perceived)
- Validasi tergantung orang lain
- Terbiasa dengan attention crumbs (remah perhatian)
Hal ini bisa berubah menjadi:
- People pleasing
- Fear of abandonment
- Dependency
- Meragukan intuisi dan boundaries sendiri